Media Sorotan Investigasi Hukum.
Makassar — Harta, ketenaran, pangkat, dan jabatan sering kali menjadi tujuan hidup banyak orang. Namun pada hakikatnya, semua itu hanyalah titipan Ilahi. Manusia lahir telanjang, dan ketika wafat hanya dibungkus kain kafan. Saat hidup mungkin dipuja, dihormati, bahkan terkenal hingga pelosok negeri, tetapi ketika meninggal dunia, semua gelar dan jabatan itu hilang tak berarti.
Renungan ini menjadi pengingat bahwa hidup sejatinya singkat. Sebagaimana air hujan yang jatuh dari langit, mengalir menjadi sungai, dan akhirnya kembali ke lautan, demikian pula manusia akan kembali pada Sang Pencipta. Yang abadi hanyalah amal baik, bukan harta atau kedudukan.
Indonesia, negeri yang berdaulat dan berdiri di atas Pancasila, dianugerahi keberagaman suku, bahasa, dan agama. Perbedaan itu adalah kekayaan bangsa. Ibarat mangga dengan berbagai nama dan bentuk, tetaplah satu buah mangga. Demikian pula bambu, meski beragam warna, tetap kokoh karena saling menopang.
Nilai gotong royong yang diwariskan leluhur adalah perekat persatuan bangsa. Filosofi “A’Bulo Sibatang” (sebatang bambu yang utuh) dari masyarakat Sulawesi Selatan memberi pelajaran bahwa persatuan adalah kekuatan. Dahulu, persatuan itu membuat bangsa ini disegani. Namun kini, semangat kebersamaan mulai terkikis oleh kepentingan sempit dan provokasi pihak-pihak yang ingin melihat Indonesia tercerai-berai.
Pengamat sosial dan hukum, Dr. Ahmad Lantara, menegaskan bahwa melemahnya persatuan bangsa bisa dimanfaatkan oleh pihak luar untuk melemahkan kedaulatan Indonesia.
> “Kita harus kembali pada nilai Pancasila. Jangan mau diadu domba hanya karena perbedaan. Indonesia pernah kuat karena bersatu, dan akan runtuh jika kita tercerai-berai,” tegasnya kepada Media Sorotan Investigasi Hukum.com.
Hal senada juga disampaikan tokoh masyarakat, H. Baso Amiruddin, yang menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong.
> “Lihatlah bambu dan semut, mereka mengajarkan kita arti kerja sama. Inilah filosofi yang harus kembali kita hidupkan sebagai bangsa,” ujarnya.
Opini ini mengingatkan kita semua: Garuda Pancasila bukan sekadar simbol, tetapi panggilan untuk menjaga persatuan. Indonesia hanya bisa tetap berdiri tegak jika anak bangsanya tidak silau oleh harta dan jabatan, melainkan bersatu dalam semangat gotong royong.
(Red/Yasin Bakri)
