Media Sorotan Investasi Hukum.
Makassar, 26 Juni 2025 — Sudah Beberapa Puluhan Tahu, pergeseran yang sangat signifikan dalam perilaku generasi muda, terutama terkait dengan nilai-nilai adat, kesopanan, dan adab dalam berucap maupun bertindak. Perubahan ini semakin terasa di tengah masyarakat Bugis Makassar yang dikenal menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, adab, dan warisan budaya luhur dari para leluhur.
Dulu, ucapan orang tua menjadi petuah yang dihormati dan dijadikan pedoman hidup. Anak-anak diajarkan untuk menjaga sopan santun, menghormati yang lebih tua, dan tidak mudah mengeluarkan kata-kata kasar apalagi sumpah serapah. Namun kini, semakin sulit ditemukan generasi muda yang mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pergeseran Nilai dalam Arus Modernisasi
Banyak yang bertanya, mengapa generasi sekarang tampak jauh dari nilai-nilai tersebut? Apakah semata-mata karena pengaruh zaman dan teknologi? Ataukah kita sebagai orang tua yang mulai lengah dan tidak lagi menanamkan nilai adat secara intensif?
Tak bisa dimungkiri, tekanan ekonomi dan kesibukan orang tua di zaman ini membuat perhatian terhadap pendidikan karakter di rumah menjadi kian berkurang. Orang tua sibuk mencari nafkah, sementara anak-anak tumbuh di tengah arus informasi digital tanpa pendampingan yang memadai. Akibatnya, nilai adat dan agama pun mulai memudar dari keseharian mereka.
Kekhawatiran terhadap Agama dan Etika Berucap
Salah satu gejala paling memprihatinkan adalah mudahnya anak-anak maupun remaja mengucapkan sumpah dengan menyebut nama Allah dalam percakapan yang tidak pada tempatnya. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan juga nilai-nilai luhur Bugis Makassar, yang sejak dahulu melarang menyebut nama Tuhan secara sembarangan, apalagi untuk membenarkan kepentingan pribadi atau memenangkan suatu perdebatan.
“Ajari anakmu untuk takut pada Allah, bukan hanya pada hukum manusia,” demikian nasihat orang tua dahulu yang kini mulai terabaikan. Bahkan dalam lingkungan sekolah dan pergaulan, kita kerap mendengar kata-kata hinaan, makian, serta ucapan tidak senonoh yang justru menjadi hal biasa di kalangan anak muda.
Pendidikan dan Agama Harus Kembali ke Rumah
Pendidikan bukan hanya tugas sekolah, melainkan tanggung jawab utama keluarga. Sebagai orang tua Bugis Makassar, sudah seharusnya kita kembali menanamkan nilai-nilai warisan leluhur yang telah terbukti menjadi benteng moral masyarakat selama ratusan tahun. Pendidikan agama dan budi pekerti harus ditekankan kembali dalam keluarga, bukan hanya diserahkan pada guru agama di sekolah.
Sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita hanya membesarkan anak secara fisik, tetapi membiarkan jiwanya kosong dari nilai dan keimanan?
Seruan untuk Introspeksi dan Perubahan
Menghadapi kenyataan ini, kita tidak boleh saling menyalahkan. Justru sebaliknya, perlu ada gerakan kolektif, dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga, untuk membenahi arah pendidikan anak. Budaya saling menegur, mengingatkan, dan memberi teladan perlu kita hidupkan kembali. Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari kata-kata, tetapi lebih kuat lagi dari teladan yang mereka lihat setiap hari.
Mari kita kembali pada akar budaya dan ajaran agama yang menjadi fondasi masyarakat Bugis Makassar. Jangan sampai warisan leluhur ini hanya menjadi cerita tanpa jejak nyata di kehidupan generasi penerus kita.

(Red/Yasin Bakri)



















