Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan — Setiap tahun ajaran baru, ribuan orang tua di Kota Makassar dihadapkan pada kenyataan pahit: anak-anak mereka tidak lulus seleksi di sekolah unggulan yang mereka dambakan. Meski hati penuh kegelisahan dan kekecewaan, semangat untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka tak pernah padam. Mereka terus mencari solusi, berjuang agar anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan, walaupun bukan di sekolah yang diidam-idamkan.
Fenomena ini bukan hal baru di Makassar. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang kompetitif, terutama untuk sekolah negeri unggulan, membuat banyak siswa harus bersaing ketat hanya untuk bisa duduk di bangku sekolah impian. Tak jarang, nilai akademik tinggi pun tidak cukup jika tidak diimbangi dengan zonasi, prestasi non-akademik, atau faktor lainnya.
Namun, dari setiap penolakan dan kegagalan, tumbuh pula semangat dan keteguhan hati para orang tua. Mereka menyadari bahwa pendidikan tidak hanya bisa diperoleh dari label “unggulan”, tetapi dari kesungguhan belajar dan dorongan moral yang mereka tanamkan kepada anak-anaknya.
Ketika Sekolah Unggulan Bukan Takdir, Sekolah Alternatif Jadi Harapan
Banyak orang tua yang mengalihkan pilihan mereka ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri maupun swasta, dan juga ke SMA non-unggulan. Mereka mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah nama besar sekolah, melainkan kualitas pendidikan yang dijalani anak-anak mereka dan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah.
“Anak saya tidak lulus di SMA unggulan pilihan pertama dan kedua, tapi saya tidak mau berhenti di situ. Saya daftarkan dia di SMK negeri, karena saya tahu dia bisa belajar keterampilan yang bermanfaat untuk masa depan,” ujar Ibu Ratna, seorang warga Tamalanrea.
SMK dan SMA non-unggulan kini menjadi alternatif yang banyak diminati. Meskipun sering kali tidak memiliki fasilitas semewah sekolah unggulan, banyak dari sekolah ini yang tetap menghadirkan kualitas pendidikan yang layak, serta guru-guru yang berdedikasi.
Semangat Orang Tua: Pilar Ketahanan Pendidikan
Para orang tua memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan pendidikan anak-anak mereka. Di tengah tekanan sosial, stigma sekolah swasta atau non-unggulan, dan kekecewaan pribadi, mereka tetap menunjukkan sikap pantang menyerah. Hal ini menunjukkan bahwa semangat menyekolahkan anak bukan semata-mata karena gengsi atau prestise, tetapi karena keyakinan bahwa pendidikan adalah hak anak yang harus dipenuhi.
Mereka juga sadar bahwa dengan pendidikan, anak-anak mereka akan memiliki daya saing di masa depan. Di era digital dan globalisasi seperti sekarang, keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, dan semangat belajar sepanjang hayat lebih dihargai daripada sekadar nama besar institusi.
Menatap Masa Depan: Pendidikan untuk Semua
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pendidikan Kota Makassar diharapkan terus memperluas akses pendidikan yang merata dan berkualitas. Tidak semua anak bisa masuk sekolah unggulan, tetapi semua anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik.
Program seperti bantuan operasional sekolah, peningkatan kualitas guru di sekolah non-unggulan, serta pelatihan keterampilan untuk siswa SMK harus diperkuat agar anak-anak dari latar belakang apapun bisa memiliki masa depan cerah.
Kesimpulan
Kisah puluhan ribu orang tua siswa di Makassar yang tetap menyekolahkan anak-anak mereka meski gagal masuk sekolah unggulan adalah cermin keteguhan hati dan cinta sejati terhadap pendidikan. Mereka menolak menyerah pada keadaan dan terus berjuang agar anak-anak mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara. Pendidikan bukan soal tempat, tetapi tentang proses dan nilai-nilai yang dibangun bersama. Dan selama ada orang tua yang tidak berhenti berharap dan berusaha, harapan masa depan bangsa tetap menyala. Ujar Ketua Yayasan YAKTIBHI ketua Media Sorotan Investasi Hukum. Muh. Mansur ALs pak Ali Muh. Bakri ALs Yasin Bakri
( Red/Yasin Bakri)



















