Jakarta – Dahulu Indonesia dikenal sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Asia. Pada masa kejayaannya, Indonesia dijuluki “Macan Asia” berkat peran aktifnya dalam diplomasi internasional, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan regional. Tak hanya itu, Indonesia bahkan dijadikan guru dan panutan oleh sejumlah negara berkembang seperti negara-negara di Afrika, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalam, hingga Timor Leste.
Namun kini, gelar itu tinggal sejarah. Indonesia perlahan kehilangan arah, ditandai dengan semakin kuatnya dominasi partai politik dan suburnya praktik korupsi. Jumlah partai politik yang banyak tidak menjamin kualitas demokrasi, justru kerap menjadi lahan rebutan kekuasaan tanpa memperhatikan nasib rakyat.
Fenomena “macan tidur” mulai terasa ketika kebijakan negara lebih berpihak pada elit politik ketimbang kesejahteraan masyarakat. Para wakil rakyat di legislatif yang seharusnya menyuarakan jeritan rakyat, justru sibuk mengurus kepentingan kelompok dan partainya. Sementara itu, praktik korupsi terus tumbuh dan bahkan masuk ke lembaga-lembaga vital negara.
Di sisi lain, rakyat semakin terpinggirkan. Kesenjangan sosial meningkat, harga kebutuhan pokok naik, dan akses terhadap pendidikan maupun kesehatan masih belum merata. Rakyat hanya menjadi penonton dari panggung politik yang penuh janji namun minim bukti.
Kini, saatnya Indonesia bangkit dari tidurnya. Gelar “Macan Asia” bukan hanya kebanggaan masa lalu, tetapi harus menjadi target nyata untuk masa depan. Rakyat berharap ada perubahan yang tegas dan nyata: penegakan hukum yang adil, pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, serta wakil rakyat yang benar-benar berpihak pada rakyat.
(Red/M. Masyur/M. Yasin Bakri)



















